Oleh: Eris Munandar*
Lesehan Komunitas Mahasiswa Persatuan Islam (L-KMPI) Yogyakarta adalah salah satu dari sekian banyak organisasi yang tumbuh kembang di Yogyakarta. Dengan mengusung corak komunitas, L-KMPI Yogyakarta tampil untuk mengencangkan tali silaturahmi antar sesama alumnus pesantren Persatuan Islam (Persis) yang berdomisili di Yogyakarta. L-KMPI Yogyakarta secara de jure dibentuk sekitar tahun 1996. namun, pada awal pembentukkannya ini tidak serta merta L-KMPI berwujud, eksistensinya baru sekedar perkumpulan biasa yang belum mempunyai makna.
Seiring dengan perjalanan waktu, pada tanggal 22 Sya’ban 1421 H/ 19 November 2000 secara de facto L-KMPI dideklarasikan di kampus IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan menetapkan Asep Hendra sebagai ketua. Di awal pembentukkannya ini, L-KMPI lahir sebagai LKAP (Lesehan Komunitas Alumni Persis) yang hanya meng-cover alumnus pesantren Persis saja, padahal pada yang menjadi anggota LKAP kala itu tidak hanya alumnus Persis saja. Oleh karena itu, pada tahun 2003 LKAP mengadakan Musyawarah Besar (Mubes) nya yang pertama dengan menetapkan perubahan nama LKAP menjadi Lesehan Komunitas Mahasiswa Persatuan Islam (L-KMPI) guna mengakomodir aspirasi yang berkembang di kalangan anggota.
Perubahan nama LKAP menjadi L-KMPI pada tahun 2003 berhasil mencuatkan Ade Rifa’i sebagai orang nomor satu di L-KMPI pada saat itu. Di bawah kepemimpinan Ade Rifa’i L-KMPI berubah haluan menjadi forum kajian yang membahas wacana ke-Islam-an, sebagai wujud dari perubahan paradigma ini L-KMPI berhasil menelurkan Aufklarung Studies yang dimotori oleh Ali Usman. Wacana ke-Islam-an yang dikaji di Aufklarung Studies ini telah menghasilkan beberapa tulisan yang tidak sedikit diterbitkan oleh beberapa surat kabar baik dalam skala nasional maupun daerah. Pada masa ini pun, Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Persis (PP. HIMA Persis) yang berkantor pusat di Bandung meminta L-KMPI untuk mengirimkan tulisan berupa artikel untuk diterbitkan menjadi sebuah buku, namun permintaan tersebut belum diikuti iktikad baik dari PP HIMA Persis karena follow up dari tulisan yang dikirim L-KMPI ke Bandung belum berwujud buku sampai sekarang.
27 Mei 2006 merupakan sejarah kelam Yogyakarta, gempa berkekuatan 6,7 skala richter meluluhlantahkan Yogyakarta. Kala itu bantuan-bantuan datang memasuki Yogyakarta untuk mengevakuasi korban dan membantu masyarakat Yogyakarta yang selamat, termasuk diantaranya team relawan dari Pimpinan Pusat (PP) Persis. Team relawan tersebut membantu masyarakat yang tinggal di daerah Bembem, Pleret, Bantul. Masuknya team relawan PP. Persis ke Yogyakarta membawa angin segar untuk Persis membuka cabang di Yogyakarta.
Tahun 2006, tepatnya 19 November 2006 L-KMPI mengadakan Musyawarah Besar (Mubes) yang ke-2 dengan mengangkat Eka Jati Rahayu Firmansyah sebagai ketua umum ketiga. Isu yang diwacanakan dalam Mubes ke-2 ini adalah menanggapi tawaran PP. HIMA Persis yang mengajak L-KMPI bergabung dengan HIMA Persis. Namun karena alasan perbedaan culture dan bentuk organisasi, peserta Mubes memutuskan untuk mengkaji lebih dalam tawaran tersebut dan mengevaluasinya setelah periode kepemimpinan Eka selesai. Anggota L-KMPI yang tercatat pada periode ini sebanyak 50 orang yang tersebar di berbagai wilayah di Provinsi D.I Yogyakarta.
Ada dua prestasi yang telah dicapai pada periode ini: pertama, L-KMPI berhasil menjadi mediator PP. Persis dengan masyarakat Yogyakarta. Wujud dari mediasi ini adalah terbentuknya Perwakilan (Pwk) PP Persis di Yogyakarta, dengan memilih Yusyus Yusup, yang kala itu merupakan salah satu alumnus L-KMPI yang masih berdomisili di Yogyakarta, menjadi ketua Pwk PP Persis Yogyakarta. Tidak hanya itu, L-KMPI pun menjadi ujung tombak dakwah Persis di Yogyakarta.
Kedua, Roadshow L-KMPI ke pesantren-pesantren Persis yang ada di wiliyah Priangan Timur. Kala itu kota-kota yang dikunjungi adalah Garut, Tasikmalaya, Ciamis dan Banjar. Kondisi inilah yang telah menempatkan L-KMPI sebagai organisasi paguyuban pertama yang berhasil mengadakan sosialisasi perguruan tinggi dan try out di lingkungan pesantren Persis dengan jumlah pesantren yang dikunjungi sebanyak 12 pesantren. Dalam acara tersebut L-KMPI menggandeng berbagai instansi pendidikan, diantaranya: Institut Sains & Teknologi Akprind (ISTA), Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY), Universitas Muhammadiyyah Yogyakarta (UMY), dan Primagama.
Keberadaan L-KMPI di Yogyakarta telah memberikan warna baru bagi dunia organisasi, khususnya organisasi kemahasiswaan. Dengan jumlah anggota yang tercatat 50 orang, L-KMPI menyebarkan anggotanya memasuki ranah-ranah terpenting dalam organisasi pergerakan, diantaranya: HMI, KAMMI, FMN, IMM dan PMII. Dengan demikian posisi L-KMPI sudah patut untuk diperhitungkan di dunia organisasi.
Tidak hanya itu, L-KMPI mengadakan Mubes ke-3 yang dilaksanakan pada 19 November 2007, dengan menetapkan Ade Abdurrahman sebagai ketua umum. Prioritas utama pada periode ini adalah menguatkan soliditas internal L-KMPI dengan melanjutkan program kerja yang telah dibangun pada periode sebelumnya. Selain itu, L-KMPI pada periode ini selalu menjalin kerja sama dengan Pwk. PP Persis Yogyakarta dalam menjalankan program kerjanya. Terbukti, dalam periode ini L-KMPI dan Pwk. Persis telah banyak melakukan audiensi dengan beberapa pimpinan Persis yang berkunjung ke Yogyakarta, dianataranya: PP. Persis dari Bandung, PW. Persis & Persistri Jakarta, PP. Hima Persis dan Pesantren Persis Rancabogo Garut.
Hal lain yang patut diperhitungkan pada periode ini adalah bergabungnya mahasiswa Persatuan Islam (Persis) Solo dengan L-KMPI Yogyakarta. Hal ini tentu semakin menguatkan eksistensi L-KMPI dalam kancah keorganisasian, baik itu di Yogyakarta maupun di Solo.
Tahun 2008 merupakan pergantian kepemimpinan dari Ade Abdurrahman kepada Ganjar Hidayat. Periode ini belum dapat mengukir sejarah, karena hal ini lebih disebabkan periode kepemimpinan yang masih panjang. Entah apa yang akan diukir, kita tunggu action dari kekepemimpinan kali ini. Wallahu a’lam bishshawwab…
*Penulis adalah Sekjend L-KMPI Yogyakarta
Periode 2006-2007
fitrah berkata,
10 f, 2009 @ 7:35 am
salam’alaykum ikhwan akhwat fillah..memang penting megetahui sejarah..akhirnya ana tau beberapa prestasi dan kontribusi LKMPI.”subhanalloh”.. yah tinggal apa lagi toh..? lanjutkan.. lillah fi sabilillah. haturnuhun kang eris..