MUSYAWARAH BESAR

Lesehan-Komunitas Mahasiswa Persatuan Islam Yogyakarta

(L-KMPI) YK III

Kota Yogyakarta (memang) merupakan daerah yang istimewa. Dari segi keilmuan, beberapa universitas besar (setidaknya) di Indonesia berdiri megah di kota ini seperti UGM, UII, UIN SK , UMY, dan seterusnya. Walau bagaimanapun, hal tersebut menjadi sebuah barometer tersendiri bagi ‘kadar keilmuan’ kota ini. Dalam hal kebudayaan sekaligus pariwisata, ‘mantan’ Ibu Kota negara ini memiliki pantai Parangtritis, candi Prambanan, Kraton, dan seterusnya. Dalam konteks pergerakan dakwah, harus kita akui bahwa kota yang memiliki ring road ini adalah ‘kandangnya’ Muhammadiyyah, organisasi massa Islam yang relatif sama modernisnya dengan jam’iyyah Persatuan Islam yang kita perjuangkan ini. Wal hasil, secara umum, dalam berbagai hal, kota gudeg ini (memang) merupakan Daerah (yang) Istimewa Yogyakarta.

Terkait dengan hal tersebut di atas, timbul sebuah pertanyaan, apa istimewanya Yogyakarta bagi jam’iyyah Persatuan Islam? Sebuah pertanyaan yang cukup mengelitik untuk dijawab. Yogyakarta tetap (daerah yang) istimewa untuk Ust. K.H. Drs. Shidiq Aminullah, MBA. dan kawan-kawan (baca: Persatuan Islam) karena Persatuan Islam mempunyai para alumni yang melanjutkan studinya di sini dan (karena idealisme juga loyalitasnya terhadap jam’iyyah Persatuan Islam, dalam hal ini Pesantren Persis) membentuk sebuah komunitas alumni Pesantren Persis yang kemudian dinamai L-KMPI (Lesehan-Komunitas Mahasiswa Persatuan Islam) Yogyakarta . Nuansa “Jogja” terasa sekali dalam komunitas ini, terbukti dengan penamaan “lesehan”, yang merupakan salah satu identitas kekeratonan khususnya di Jogja. Ini menajdi keunikan tersendiri bagi L-KMPI. Selain itu, ada hal lain yang menarik dari L-KMPI, yaitu di dalam struktur ke-otonoman di Persatuan Islam, dalam hal ini HIMA dan HIMI PERSIS, L-KMPI tidak ‘diakui eksistensinya’ sampai saat ini. Untuk hal ini baiknya kita diskusikan lebih lanjut di kesempatan lain karena bukan di sini tempat yang tepat..

Dan pada tanggal 22-23 Nopember 2008, bertempat di kediaman seorang (boleh dikatakan) simpatisan Persatuan Islam di Yogyakarta, beliau bernama Ibu Enur (asalnya dari Garut, Wanaraja, masih mempunyai hubungan keluarga dengan Pimpinan Pesantren Persis 101 Sukarendah Garut), L-KMPI melaksanakan salah satu agenda besar tahuanannya, yaitu Musyawarah Besar III L-KMPI Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan sarana bagi L-KMPI untuk melakukan evalusi dan penyusunan substansi dan strategi gerakan organisasi ke depan.

Di tengah-tengah berbagai pergerakan organisasi mahasiswa yang ada, khususnya di kota Yogyakarta, L-KMPI harus konsisten dalam eksistensinya sebagai wadah bagi, khususnya, alumni Pesantren Persis yang melanjutkan studi di kota tersebut di atas, untuk, pada satu sisi, melakukan reinternalisasi ke-Persis-annya dan pada sisi lain memberikan sesuatu yang berarti bagi masyarakat secara umum dalam posisinya sebagai agen of change (baca: mahasiswa).

Pada Mubes kali ini, organisasi yang telah berdiri sejak sekitar akhir dasawarsa ’90-an ini mengambil tema “Revitalisasi Peran L-KMPI yang Kontributif”. Tema ini diambil tentunya atas dasar analisa kebutuhan dan masalah yang ada di internal maupun aspek-espek eksternal yang mempunyai keterkaitan-keterkaitan dengan L-KMPI. Dengan tema ini, L-KMPI bertujuan untuk menjadikan Mubes yang ketiga kalinya ini sebagai titik balik bagi gerakan L-KMPI yang lebih mengedepankan kontribusi kongkrit bagi masyarakat, khususnya masyrakat pelajar (baca: mahasiswa), dalam berbagai bidang, baik sosial, intelektual, maupun yang lainnya.

“Sudah saatnya L-KMPI tampil sebagai organisasi yang mapan dan produktif” Demikian kata sambutan dari ketua terpili Kang Ganjar Hidayat yang masih studi di UIN Sunan Kalijaga semester lima Fakultas Syariah Jurusan Mu’amalat.

Sebagai catatan, mahasiswa alumni Pesantren Persis yang melanjutkan studi di Yogyakarta berasal dari berbagai universitas. Komposisi ini tentu ,paling tidak, menjadi representasi L-KMPI itu sendiri. Pada Mubes yang melahirkan Kang Ganjar Hidayat (alumni PPI 76 Tarogong) sebagai Ketua L-KMPI yang baru (menggantikan Kang Ade Abdurrahman [alumni PPI 67 Benda]), para peserta Mubes ada yang berasal dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Muhamadiyah Yogyakarta, Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga, Universitas Gunadharma, STEI Hamfara, dan STEI Yogyakarta bahkan ada mahasiswa yang berasal dari Solo (Surakarta) yang ikut bermusyawarah, mereka sedang studi di Universitas Muhamadiayh Surakarta. Dalam hal asal pesantren, para aktifis L-KMPI berasal dari PPI 67 Benda, PPI 76 Tarogong, PPI 99 Rancabango, PPI Bangil, PPI Camplong (Madura), PPI 87 Pangatikan (dulu Wanaraja), PPI Indihiang, PPI Cianjur, dan banyak mahasiswa yang sama sekali bukan dari latar belakang Pesantren Persatuan Islam yang (atas dasar kedekatan pribadi mereka dengan para alumni Pesantren Persis dan juga ketertarikannya terhadap Persatuan Islam) ikut aktif di organisasi ini dan menghadiri Mubes yang diakhiri dengan shalat shubuh berjam`ah dengan di-­imam­-i oleh ketua terpilih ini.

Dalam sambutannya, Kang Yus Yusuf, S. Th.I, sebagai Ketua Perwakilan Persis Yogyakarta yang juga salah satu dari founding fathers organisasi yang dulunya bernama L-KAP (Lesehan-Komunitas Alumni Pesantren Persis), menyatakan bahwa program yang dijalankan oleh L-KMPI tidak perlu besar-besar. Cupuk dengan program yang kecil tetapi terlaksana dan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. “Apalah artinya sebuah program yang besar tanpa realisasi”. Tegas lulusan Fakultas Ushuluddin jurusan Tafsi Hadis UIN Sunan Kalijaga ini yang juga seorang pengusaha di bidang travel.

Dalam Mubes ini juga dihasilkan beberapa departemen yang akan menjadi ’motor-motor’ bergeraknya L-KMPI. Departemen-departemen tersebut antara lain Departemen Nalar dan Intelektual, Departemen Jaringan dan Komunikasi Umat, dan Departemen Penelitian dan Pengembangan.

Ke depan, dalam waktu satu atau dua bulan lagi, L-KMPI akan melakukan satu agenda pertama di kepemimpinan barunya di bawah ’nakhoda’ Kang Ganjar Hidayat. Agenda itu adalah road show ke sebagian besar Pesantren Persis di Jawa Barat dengan mengadakan acara try out bagi santri-santri tiga Mualimin untuk menghadapi Ujian Nasional. Kegiatan ini menjadi semacam agenda besar lainnya yang telah konsisten dilaksanakan oleh L-KMPI. Agenda ini juga mendapat apresiasi yang positif dari elit Persatuan Islam maupun para santri dengan keikut sertaannya pada acara try out tersebut. Kita nantikan saja aksi dari para mahasiswa yang ’sedikit membangkang’ pada PP. HIMA dan PP. HIMI ini. Billaahi tawfiq wal hidaayah. [Imam Sofyan Abbas]

lkmpi 2009

lkmpi 2009

3 Tanggapan sejauh ini »

  1. 1

    hadi berkata,

    bagus juga ni da blognya
    mudah2an ikatan persaudaraan qt semakin kuat..

  2. 2

    Anonymous berkata,

    HIDUP L-KMPI..!!!
    Kita jgn mau KALAH sama HIMA & HIMI, OK ?!!
    Kami mendukung moe!!
    By…RG 67 2009

  3. 3

    Rossa uG 101 skrNdah berkata,

    Hidup,Remaja muslim persis indonesia,yes!!!


RSS Komentar · URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.