Dasar Ekonomi Islam

Manusia memiliki kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan tersebut harus dipenuhi oleh manusia demi kelangsungan hidupnya. Dalam proses pemenuhan kebutuhannya itu setidaknya ada tiga aspek terkait. Tiga aspek yang dimaksud adalah produksi, distribusi, dan konsumsi. Aspek produksi meliputi pengelolaan sumber daya alam sehingga dapat dikonsumsi. Aspek distribusi meliputi proses penyaluran hasil produksi sehingga sampai di pihak konsumen. Aspek konsumsi meliputi proses pemenuhan kebutuhan manusia yang dimaksud di atas.

Dalam ekonomi islam, aspek yang menjadi fokus adalah aspek distribusi, yaitu ketika barang sudah diproduksi dan sebelum dikonsumsi. Ini sejalan dengan fakta bahwa dalam tahap inilah masalah sering muncul. Konflik dan pertikain seringkali terjadi dalam proses distribusi. Dengan kata lain, masalahnya ada pada interaksi manusia dalam pemenuhan kebutuhannya. Aspek produksi (yang dipermasalahkan oleh kapitalisme dengan konsep “scarcitiy”nya) dan konsumsi tidak menjadi fokus ekonomi islam karena akal manusia dapat menyelesaikan hal tersebut. Adapun problem interaksi maka hal ini memerlukan sebuah aturan main (rule of game) untuk menyelesaiakan permasalahan yang ada. Sebuah aturan dari pihak yang netral, yaitu Allah swt.

Dalam hal kepemilikan, ekonomi islam membagi kepemilikan menjadi tiga macam, yaitu kepemilikan pribadi, kepemilikan umum (barang yang menjadi kebutuhan umum, barang tambang dalam jumlah besar, dan barang yang tidak dapat dimiliki individu), dan kepemilikan negara (jizyah, kharaj, ghanimah, fa’i, ‘usyur, 20% rikaz, harta tanpa ahli waris, harta orang murtad, berbagai lahan, dan bangunan milik negara). Pembagian kepemilikan seperti ini dimaksudkan demi terwujudnya kesejahteraan bagi seluruh manusia. Inilah wujud keadilan dalam perekonomian islam. Sistem pasar hanya berlaku dalam sektor kepemilikan individu. Dalam sektor ini seluruh manusia dapat berkompetisi memperoleh keuntungan. Dua sektor lainnya diberikan cuma-cuma kepada masyarakat demi terwujudnya kesejahteraan.

Sebagai pusat sirkulasi keuangan, ekonomi islam menjadikan baitul maal sebagai pemegang otoritas penuh dalam menjalankan kebijakan fiskal (pemasukan dan pengeluaran negara) dan moneter (mata uang). Baitul maal akan menjalankan seluruh perekonomian negara untuk mensejahterakan masyarakat.

Dinar dan dirham merupakan alat tukar/mata uang dalam ekonomi islam. Ini dimaksudkan karena nilai intrinsik dan nilai nominalnya relatif sama sehingga dapat mewujudkan keadilan. Di samping itu, inflasi yang akan terjadi mendekati angka nol karena nilainya relatif konstan (tetap dari waktu ke waktu) sehingga krisis yang terjadi relatif bisa diantisipasi.

Dalam ekonomi islam dikenal distribusi non-ekonomi, yaitu pola distribusi yang tidak melalui mekanisme pasar. Hal ini ditujukan bagi pihak-pihak yang mengalami kemiskinan fungsional. Sumber distribusi non-ekonomi berasal dari kepemilikan umum dan negara yang dikelola oleh negara untuk kesejahteraan masyarakat.

Untuk mewujudkan semua hal di atas diperlukan kebijakan politis dari sebuah negara. Maka dikenal istilah politik ekonomi islam. Artinya, sistem ekonomi islam islam dapat diterapkan secara kaaffah (menyeluruh) hanya jika ada political wiil dari institusi politik yang memegang kebijakan tertinggi untuk menerapkannya.

Demikian dasar ekonomi islam yang dapat membangun keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Sebagai salah satu bukti bahwa (memang benar) islam adalah rahmatan lil ‘aalamiin. Wallaahu a’lam bishshawwaab.

Komentar bertahan »

ROAD SHOW

Akhir bulan Februari lalu Lesehan Komunitas Mahasiswa Persatuan Islam (L-KMPI) Yogyakarta melaksanakan Road Show ke Pesantren-Pesantren Persatuan Islam (Persis) yang ada di wilayah Priangan Timur sebagai realisasi program kerja dari Departemen Jaringan dan Komunikasi Ummat, yakni menjalin hubungan kerjasama dan silaturahmi antara L-KMPI, paguyuban alumni pesantren Persis yang ada di D.I. Yogyakarta, dengan institusi (Pesantren Persis) sebagai wujud kepedulian L-KMPI terhadap generasi muda (santri) Persis. Acara dengan mengusung tema “Dari Alumni Untuk Generasi” diketuai oleh Tahta Amrillah (alumnus Pesantren Persis Sepeken Jawa Timur) ini berlangsung dengan lancar dan sukses. Kelancaran dan kesuksesan acara tersebut tercermin oleh beberapa factor, baik dari internal kepanitiaan sendiri maupun pihak ekternal yakni pesantren Persis sebagai fasilitator dan insititusi pendidikan sebagai pihak pendukung acara.

Pertama, yakni kesolidan internal panitia pelaksana. Ini tercermin dari tidak mengandalkan hanya pada Departemen Jaringan dan Komunikasi Ummat saja, tetapi soliditas terlihat mulai dari terbentuknya panitia sampai hari dimana acara berlangsung, yaitu tanggal 29 Februari – 9 Maret. Acara dimulai pertama kali di kabupaten Bandung, tepatnya Pesantren Persis Banjaran, setelah itu dilanjutkan dengan bersilaturahmi ke Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (PP. HIMA Persis) yang terletak di Pesantren Persis Pajagalan. Acara pun berakhir di Kota Banjar, tepatnya di Pesantren Persis Banjar pada tanggal 9 Maret 2008.

Kedua, sambutan hangat dan antusiasme dari pihak Pesantren Persis yang dikunjungi. Acara Road Show ini diisi dengan sosialisasi perguruan tinggi yang ada di daerah Yogyakarta dan Try Out yang diikuti oleh santri Mu’allimien dan Tsanawiyyah, sehingga tidak sedikit pihak pesantren mengeluarkan tenaga dan pikiran untuk memobilisasi santri supaya mengikuti acara ini. Nampaknya tidak hanya ustadz-ustadzah yang begitu ramah dan hangat menyambut L-KMPI, adik-adik santri pun mengikuti acara ini dengan begitu antusias dan khidmat, terutama santri Mu’alimien yang berkeinginan untuk melajutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (kuliah). Terbukti dengan penjelasan mengenai perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta dan pengenalan kawasan Yogyakarta beserta aktivitas keseharian mahasiswanya, banyak santri yang bertanya mengenai jurusan ataupun program studi yang ada di Yogyakarta, juga ada santri yang sampai curhat mengenai keinginannya melanjutkan kuliah dan bertanya mengenai cara masuk ke jurusan favorit yang diinginkan.

Memang sampai saat ini belum ada organisasi alumni Pesantren Persis yang mengadakan acara semacam ini. Sehingga begitu besarnya antusiasme Pesantren Persis dalam menyambut acara ini. Inilah sebagai perwujudan kepedulian alumni terhadap adik-adik kelasnya yang masih ada di Pesantren Persis. Karena dengan cara inilah sebagai salah satu upaya sambung rasa alumni terhadap santri Pesantren Persis, sekaligus berbagi pengalaman di hari-hari terakhir meninggalkan Pesantren.

Ketiga, dukungan dari institusi pendidikan di Yogyakarta. Acara Road Show ini didukung antara lain oleh: STMIK AMIKOM Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dan Magistra Utama. Selain itu, dukungan pun datang dari lembaga bimbingan belajar yang berpusat di Bandung yaitu Ganesha Operation (GO). GO membantu kelancaran acara ini dengan men-suplai soal Try Out berstandar Ujian Nasional (UN). Sehingga dengan diadakannya try out secara tidak langsung memberikan gambaran soal UN bagi santri sekaligus mengukur kemempuan mereka dalam mengerjakan soal ujian.

Harapannya, dengan diadakan try out kemampuan santri dalam mengerjakan soal ujian dapat terukur, sehingga pihak pesantren dapat mengevaluasi hasil belajar santrinya dan mengambil langkah ansipatif dalam menekan hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya meminimialisir tingkat ketidaklulusan dengan mengadakan pemadatan pembelajaran khususnya materi yang hendak diujikan di UN.

Sulit dibayangkan ketika acara Road Show II ini harus berakhir, namun harapannya ke depan semoga acara yang seperti ini dapat terus terjaga sehingga dapat terjaga pula jalinan silaturahmi antara alumni dengan Pesantren Persis yang telah ikut membesarkannya. Semoga tidak hanya L-KMPI Yogyakarta saja yang dapat melaksanakan acara ini, namun sebisa mungkin seluruh komunitas ataupun paguyuban alumni Pesantren Persis dimanapun ikut memberikan perhatian terhadap generasi mendatang penerus dakwah Qur’an-Sunnah. Allaahu Ya’khudzu Ilaa Maa Fiehi Khairan Lil Islaami Wal Muslimin.

Eris Munandar
Lesehan Komunitas Mahasiswa Persatuan Islam
(L-KMPI) Yogyakarta Periode 2008-2009rsis sulit untuk masuk ke wilayah Jogja.

Namun sejarah berkata lain, 27 Mei 2006 adalah sejarah kelam bagi masyarakat Yogyakarta dan sebagian masyarakat Jawa Tengah, pasalnya gempa berkekuatan 5,9 richter telah meluluhlantahkan Yogyakarta. Bantuan pun berdatangan memasuki yogyakarta yang kala itu memang sangat membutuhkan uluran tangan dari berbagai pihak. Tidak terkecuali dengan Persis yang berkantor pusat di Bandung, pun ikut berpartisipasi dalam membantu masyarakat dengan mengirimkian team relawan.

Masuknya team relawan Persis ke Jogja telah memberikan angin segar bagi Persis untuk melebarkan sayapnya ke Jogja, pasalnya setelah bertahun-tahun baru kali ini Persis mendapatkan perhatian dari sebagian masyarakat Jogja khususnya masyarakat yang tinggal di Pleret Bantul. Pun tidaka demikian, Persis sulit memasuki Jogja karena dinilai Persis mewakili Islam Fundamentalis, yang sangat keras dalam menyampaikan dakwahnya.

April 2007 Persis meresmikan Perwakilannya di Yogyakarta. Adanya Perwakilan PP Persis di Yogyakarta tentu tidak bisa terlepas dari peran mahasiswa Persis yang berdomisili di Yogyakarta, yang tergabung dalam Lesehan Komunitas Mahasiswa Persatuan Islam (L-KMPI) Yogyakarta. Sebagai sebuah paguyuban alumni pesantren Persis, L-KMPI.

Peluang Persis di Jogja
Jauh sebelum PP. Persis meresmikan Perwakilannya di Jogja, terlebih dahulu telah banyak alumnus Pesantren Persis yang melanjutkan pendidikannya dan memutusakan untuk berdomisili di Jogja. Untuk mengikatkan silaturahmi dan mempererat kekeluargaan alumnus Pesantren Persis yang berada di Jogja dibuatlah sebuah wadah yang bernama Lesehan Komunitas Mahasiswa Persatua Islam (L-KMPI) pada tanggal 22 Sya’ban 1421 H/ 19 November 2000.

Keberadaan L-KMPI sangat membantu PP Persis dalam mewujudkan terbentuknya Perwakilan Persis di Jogja. Pasalnya, L-KMPI menjadi mediator antara PP Persis dengan masyarakat Jogja yang bersimpati terhadap Persis. Keputusan untuk membuka Perwakilan tentu harus diikuti dengan kesiapan yag matang, paling tidak kesiapan mental dalam menghadapi masyarakat Yogyakarta yang heterogen. Sebenarnya ada banyak peluang bagi Persis untuk bisa eksis di Jogja: pertama: sebagian masyarakat Jogja adalah pendatang dan terpelajar. Tiap tahunnya Jogja banyak menyedot pendatang dari berbagai pelosok nusantara untuk belajar di berbagai perguruan tinggi. Dengan jumlah yang tidak sedikit ini, tidak sedikit pula yang memutuskan untuk menetap di Jogja. Keberadaan mereka patut diperhitungkan, tipikal pelajar yang rasional akan sangat dengan mudah menerima sesuatu jika ada landasan yang kuat. Hal ini sangat sejalan dengan Persis yang dapat mengungkap berbagai permasalahan dengan berpegang kepada al-Qur’an dan Sunnah.

Kedua: tidak sedikit alumnus Persis yang berdomisili di Jogja. Mereka patut diperhitungan, dengan track recordnya yang mudah bergaul dengan masyarakat menyebabkan mereka sangat dipercaya oleh masyarakat. Dengan berbagai profesi yang digeluti mereka berdakwah dengan caranya masing-masing. Keberadaan Persis di Jogja seolah memperkuat eksistensi mereka selama ini.

Ketiga, L-KMPI yang selama ini telah menjadi ujung tombak Persis telah ikut membatu dalam membesarkan nama Persis di Jogja. Pada dasarnya Persis di Jogja dengan L-KMPI bagai dua sisi mata uang koin, walaupun berbeda tetapi keduanya adalah satu yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh L-KMPI selalu menyertakan nama Perwakilan PP Persis Yogyakarta, hal ini guna mem-publish Persis di kalangan civitas akademika yang berada di Yogyakarta. Walaupun L-KMPI tidak ada hubungan struktural dengan Persis, mereka tetap berkeyakinan suatu saat Persis mampu eksis di Jogja. Satu alasan kenapa L-KMPI selalu mendukung setiap gerak yang Pwk. Persis, karena L-KMPI menyadari betul hubungan emosional yang telah mengikatkannya dengan Persis sehingga Persis dapat dikenal dari kampus ke kampus.

Tantangan Persis di Jogja
Banyak tantangan yang akan dihadapi oleh Persis dalam menjalankan setiap misinya untuk mengembalikan umat kepada al-Qura’an dan Sunnah. Umumnya masyarakat menolak karena pengetahuan yang terbatas soal agama. Namun berbeda dengan Ahmad Hassan (guru utama Persis), beliau mengungkapkan bahwa tidak ada kehidupan yang lebih baik daripada hidup dalam batasan-batasan agama (Dadan Wildan: 1997). Ungkapan ini tentu harus menjadi motor yang menjadikan agama sebagai landasan berpijak umat Islam pada umumnya.

Tidak jauh berbeda dengan apa yang dihadapi oleh Persis di berbagai daerah, umumnya masyarakat Indonesia masih memegang teguh tradisi dan warisan nenek moyang. Pun dengan Jogja tradisi kejawen yang sangat kentasl seolah menempatkan agama pada urutan yang kesekian setelah tradisi. Banyak tradisi yang masih membudaya dalam masyarakat yang sulit untuk ditinggalkan, dan tidak sedikit tradisi itu belum mencerminkan Islam yang dianut oleh masyarakat pemegang tradisi tersebut.

Persis dilahirkan mempunyai tugas untuk meluruskan hal itu semua, setidaknya meminimalisir terjadinya TBC (takhayul, bid’ah dan churafat). Namun untuk mencapai itu semua ada strategi khusus yang dijalankan, seperti al-Qur’an yang menyatakan bahwa dalam menyeru dalam kebaikan hendaknya diiringi oleh hikmah dan mao’idzah hasanah.
Wallahu a’lam bish shawwab…

*Penulis adalah alumnus Pesantren Persis Benda dan pernah mengemban amanah sebagai Sekjen L-KMPI periode 2006-2007

Komentar bertahan »

PERSIS DI YOGYAKARTA: PELUANG DAN TANTANGAN

Oleh: Eris Munandar*

Sejarah telah mencatat Persatuan Islam (Persis) sebagai sebuah ormas Islam yang lahir untuk menjawab berbagai persoalan yang tengah melanda bangsa Indonesia kala itu. Dengan tipikal dakwah yang selalu mengusung pemberantasan penyakit TBC (takhayul, bid’ah dan churafat), Persis selalu diidentikkan dengan Islam fundamental yang tidak mengenal kompromi ketika melihat banyak penyimpangan-penyimpangan dalam masalah agama, baik itu masalah fiqhiyah, aqidah maupun muamalat. Sehingga wajar jika sebagian masyarakat kurang begitu bersahabat ketika harus berhadapan dengan Persis, jangankan berhadapan mendengar nama Persis pun sepertinya telinganya dipaksakan untuk tuli sesaat.

Namun fenomena Persis yang ”keras” dalam berdakwah tidak semata berlandaskan karakter dan emosional semata, melainkan sebuah usaha untuk menyelamatkan ibadah umat pada umumnya dengan mengembalikan sebuah peramasalahan kepada al-Qur’an dan Sunnah. Banyak ormas Islam lainnya yang mengklaim sebagai ormas ahlu sunnah wal jama’ah, dengan mengatakan pedoman dalam gerakkannya berpegang teguh pada al-Qur’an dan Sunnah, tetapi sangat sedikit yang benar-benar bergerak sesuai prinsip al-Qur’an dan Sunnah.

Hal inilah yang nampaknya menyebabkan Persis sulit berkembang, dengan menyandang predikat ormas Islam yang ”super ketat” seolah menyebabkan masyarakat Indonesia berat untuk menerima Persis, karena pada umumnya mereka masih memegang tradisi nenek moyang yang harus dilestarikan dengan tidak memperhatikan relevansinya dengan agama Islam.

Yogyakarta misalnya, sebagai kota yang dikenal dengan sebutan kota budaya menempatkan Jogja sebagai central of culture di Indonesia. Masyarakatnya masih berpegang teguh terhadap peninggalan nenek moyang. Keberadaan Kraton Ngayogyakarta Hadingingrat merupakan representasi eksistensi budaya dan menempatkan tradisi pada urutan pertama dalam setiap gerak langkah masyarakat Jogja. Kehidupan masyarakat yang sangat memegang teguh adat dan budaya menyebabkan tingkat tolerasansi sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Jogja. Sehingga hal ini menyebabkan Persis sulit untuk masuk ke wilayah Jogja.

Namun sejarah berkata lain, 27 Mei 2006 adalah sejarah kelam bagi masyarakat Yogyakarta dan sebagian masyarakat Jawa Tengah, pasalnya gempa berkekuatan 5,9 richter telah meluluhlantahkan Yogyakarta. Bantuan pun berdatangan memasuki yogyakarta yang kala itu memang sangat membutuhkan uluran tangan dari berbagai pihak. Tidak terkecuali dengan Persis yang berkantor pusat di Bandung, pun ikut berpartisipasi dalam membantu masyarakat dengan mengirimkian team relawan.

Masuknya team relawan Persis ke Jogja telah memberikan angin segar bagi Persis untuk melebarkan sayapnya ke Jogja, pasalnya setelah bertahun-tahun baru kali ini Persis mendapatkan perhatian dari sebagian masyarakat Jogja khususnya masyarakat yang tinggal di Pleret Bantul. Pun tidaka demikian, Persis sulit memasuki Jogja karena dinilai Persis mewakili Islam Fundamentalis, yang sangat keras dalam menyampaikan dakwahnya.

April 2007 Persis meresmikan Perwakilannya di Yogyakarta. Adanya Perwakilan PP Persis di Yogyakarta tentu tidak bisa terlepas dari peran mahasiswa Persis yang berdomisili di Yogyakarta, yang tergabung dalam Lesehan Komunitas Mahasiswa Persatuan Islam (L-KMPI) Yogyakarta. Sebagai sebuah paguyuban alumni pesantren Persis, L-KMPI.

Peluang Persis di Jogja
Jauh sebelum PP. Persis meresmikan Perwakilannya di Jogja, terlebih dahulu telah banyak alumnus Pesantren Persis yang melanjutkan pendidikannya dan memutusakan untuk berdomisili di Jogja. Untuk mengikatkan silaturahmi dan mempererat kekeluargaan alumnus Pesantren Persis yang berada di Jogja dibuatlah sebuah wadah yang bernama Lesehan Komunitas Mahasiswa Persatua Islam (L-KMPI) pada tanggal 22 Sya’ban 1421 H/ 19 November 2000.

Keberadaan L-KMPI sangat membantu PP Persis dalam mewujudkan terbentuknya Perwakilan Persis di Jogja. Pasalnya, L-KMPI menjadi mediator antara PP Persis dengan masyarakat Jogja yang bersimpati terhadap Persis. Keputusan untuk membuka Perwakilan tentu harus diikuti dengan kesiapan yag matang, paling tidak kesiapan mental dalam menghadapi masyarakat Yogyakarta yang heterogen. Sebenarnya ada banyak peluang bagi Persis untuk bisa eksis di Jogja: pertama: sebagian masyarakat Jogja adalah pendatang dan terpelajar. Tiap tahunnya Jogja banyak menyedot pendatang dari berbagai pelosok nusantara untuk belajar di berbagai perguruan tinggi. Dengan jumlah yang tidak sedikit ini, tidak sedikit pula yang memutuskan untuk menetap di Jogja. Keberadaan mereka patut diperhitungkan, tipikal pelajar yang rasional akan sangat dengan mudah menerima sesuatu jika ada landasan yang kuat. Hal ini sangat sejalan dengan Persis yang dapat mengungkap berbagai permasalahan dengan berpegang kepada al-Qur’an dan Sunnah.

Kedua: tidak sedikit alumnus Persis yang berdomisili di Jogja. Mereka patut diperhitungan, dengan track recordnya yang mudah bergaul dengan masyarakat menyebabkan mereka sangat dipercaya oleh masyarakat. Dengan berbagai profesi yang digeluti mereka berdakwah dengan caranya masing-masing. Keberadaan Persis di Jogja seolah memperkuat eksistensi mereka selama ini.

Ketiga, L-KMPI yang selama ini telah menjadi ujung tombak Persis telah ikut membatu dalam membesarkan nama Persis di Jogja. Pada dasarnya Persis di Jogja dengan L-KMPI bagai dua sisi mata uang koin, walaupun berbeda tetapi keduanya adalah satu yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh L-KMPI selalu menyertakan nama Perwakilan PP Persis Yogyakarta, hal ini guna mem-publish Persis di kalangan civitas akademika yang berada di Yogyakarta. Walaupun L-KMPI tidak ada hubungan struktural dengan Persis, mereka tetap berkeyakinan suatu saat Persis mampu eksis di Jogja. Satu alasan kenapa L-KMPI selalu mendukung setiap gerak yang Pwk. Persis, karena L-KMPI menyadari betul hubungan emosional yang telah mengikatkannya dengan Persis sehingga Persis dapat dikenal dari kampus ke kampus.

Tantangan Persis di Jogja
Banyak tantangan yang akan dihadapi oleh Persis dalam menjalankan setiap misinya untuk mengembalikan umat kepada al-Qura’an dan Sunnah. Umumnya masyarakat menolak karena pengetahuan yang terbatas soal agama. Namun berbeda dengan Ahmad Hassan (guru utama Persis), beliau mengungkapkan bahwa tidak ada kehidupan yang lebih baik daripada hidup dalam batasan-batasan agama (Dadan Wildan: 1997). Ungkapan ini tentu harus menjadi motor yang menjadikan agama sebagai landasan berpijak umat Islam pada umumnya.

Tidak jauh berbeda dengan apa yang dihadapi oleh Persis di berbagai daerah, umumnya masyarakat Indonesia masih memegang teguh tradisi dan warisan nenek moyang. Pun dengan Jogja tradisi kejawen yang sangat kentasl seolah menempatkan agama pada urutan yang kesekian setelah tradisi. Banyak tradisi yang masih membudaya dalam masyarakat yang sulit untuk ditinggalkan, dan tidak sedikit tradisi itu belum mencerminkan Islam yang dianut oleh masyarakat pemegang tradisi tersebut.

Persis dilahirkan mempunyai tugas untuk meluruskan hal itu semua, setidaknya meminimalisir terjadinya TBC (takhayul, bid’ah dan churafat). Namun untuk mencapai itu semua ada strategi khusus yang dijalankan, seperti al-Qur’an yang menyatakan bahwa dalam menyeru dalam kebaikan hendaknya diiringi oleh hikmah dan mao’idzah hasanah.
Wallahu a’lam bish shawwab…

*Penulis adalah alumnus Pesantren Persis Benda dan pernah mengemban amanah sebagai Sekjen L-KMPI periode 2006-2007

Komentar (2) »

Tinta Emas L-KMPI Yogyakarta

Oleh: Eris Munandar*

Lesehan Komunitas Mahasiswa Persatuan Islam (L-KMPI) Yogyakarta adalah salah satu dari sekian banyak organisasi yang tumbuh kembang di Yogyakarta. Dengan mengusung corak komunitas, L-KMPI Yogyakarta tampil untuk mengencangkan tali silaturahmi antar sesama alumnus pesantren Persatuan Islam (Persis) yang berdomisili di Yogyakarta. L-KMPI Yogyakarta secara de jure dibentuk sekitar tahun 1996. namun, pada awal pembentukkannya ini tidak serta merta L-KMPI berwujud, eksistensinya baru sekedar perkumpulan biasa yang belum mempunyai makna.
Seiring dengan perjalanan waktu, pada tanggal 22 Sya’ban 1421 H/ 19 November 2000 secara de facto L-KMPI dideklarasikan di kampus IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan menetapkan Asep Hendra sebagai ketua. Di awal pembentukkannya ini, L-KMPI lahir sebagai LKAP (Lesehan Komunitas Alumni Persis) yang hanya meng-cover alumnus pesantren Persis saja, padahal pada yang menjadi anggota LKAP kala itu tidak hanya alumnus Persis saja. Oleh karena itu, pada tahun 2003 LKAP mengadakan Musyawarah Besar (Mubes) nya yang pertama dengan menetapkan perubahan nama LKAP menjadi Lesehan Komunitas Mahasiswa Persatuan Islam (L-KMPI) guna mengakomodir aspirasi yang berkembang di kalangan anggota.
Perubahan nama LKAP menjadi L-KMPI pada tahun 2003 berhasil mencuatkan Ade Rifa’i sebagai orang nomor satu di L-KMPI pada saat itu. Di bawah kepemimpinan Ade Rifa’i L-KMPI berubah haluan menjadi forum kajian yang membahas wacana ke-Islam-an, sebagai wujud dari perubahan paradigma ini L-KMPI berhasil menelurkan Aufklarung Studies yang dimotori oleh Ali Usman. Wacana ke-Islam-an yang dikaji di Aufklarung Studies ini telah menghasilkan beberapa tulisan yang tidak sedikit diterbitkan oleh beberapa surat kabar baik dalam skala nasional maupun daerah. Pada masa ini pun, Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Persis (PP. HIMA Persis) yang berkantor pusat di Bandung meminta L-KMPI untuk mengirimkan tulisan berupa artikel untuk diterbitkan menjadi sebuah buku, namun permintaan tersebut belum diikuti iktikad baik dari PP HIMA Persis karena follow up dari tulisan yang dikirim L-KMPI ke Bandung belum berwujud buku sampai sekarang.
27 Mei 2006 merupakan sejarah kelam Yogyakarta, gempa berkekuatan 6,7 skala richter meluluhlantahkan Yogyakarta. Kala itu bantuan-bantuan datang memasuki Yogyakarta untuk mengevakuasi korban dan membantu masyarakat Yogyakarta yang selamat, termasuk diantaranya team relawan dari Pimpinan Pusat (PP) Persis. Team relawan tersebut membantu masyarakat yang tinggal di daerah Bembem, Pleret, Bantul. Masuknya team relawan PP. Persis ke Yogyakarta membawa angin segar untuk Persis membuka cabang di Yogyakarta.
Tahun 2006, tepatnya 19 November 2006 L-KMPI mengadakan Musyawarah Besar (Mubes) yang ke-2 dengan mengangkat Eka Jati Rahayu Firmansyah sebagai ketua umum ketiga. Isu yang diwacanakan dalam Mubes ke-2 ini adalah menanggapi tawaran PP. HIMA Persis yang mengajak L-KMPI bergabung dengan HIMA Persis. Namun karena alasan perbedaan culture dan bentuk organisasi, peserta Mubes memutuskan untuk mengkaji lebih dalam tawaran tersebut dan mengevaluasinya setelah periode kepemimpinan Eka selesai. Anggota L-KMPI yang tercatat pada periode ini sebanyak 50 orang yang tersebar di berbagai wilayah di Provinsi D.I Yogyakarta.
Ada dua prestasi yang telah dicapai pada periode ini: pertama, L-KMPI berhasil menjadi mediator PP. Persis dengan masyarakat Yogyakarta. Wujud dari mediasi ini adalah terbentuknya Perwakilan (Pwk) PP Persis di Yogyakarta, dengan memilih Yusyus Yusup, yang kala itu merupakan salah satu alumnus L-KMPI yang masih berdomisili di Yogyakarta, menjadi ketua Pwk PP Persis Yogyakarta. Tidak hanya itu, L-KMPI pun menjadi ujung tombak dakwah Persis di Yogyakarta.
Kedua, Roadshow L-KMPI ke pesantren-pesantren Persis yang ada di wiliyah Priangan Timur. Kala itu kota-kota yang dikunjungi adalah Garut, Tasikmalaya, Ciamis dan Banjar. Kondisi inilah yang telah menempatkan L-KMPI sebagai organisasi paguyuban pertama yang berhasil mengadakan sosialisasi perguruan tinggi dan try out di lingkungan pesantren Persis dengan jumlah pesantren yang dikunjungi sebanyak 12 pesantren. Dalam acara tersebut L-KMPI menggandeng berbagai instansi pendidikan, diantaranya: Institut Sains & Teknologi Akprind (ISTA), Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY), Universitas Muhammadiyyah Yogyakarta (UMY), dan Primagama.
Keberadaan L-KMPI di Yogyakarta telah memberikan warna baru bagi dunia organisasi, khususnya organisasi kemahasiswaan. Dengan jumlah anggota yang tercatat 50 orang, L-KMPI menyebarkan anggotanya memasuki ranah-ranah terpenting dalam organisasi pergerakan, diantaranya: HMI, KAMMI, FMN, IMM dan PMII. Dengan demikian posisi L-KMPI sudah patut untuk diperhitungkan di dunia organisasi.
Tidak hanya itu, L-KMPI mengadakan Mubes ke-3 yang dilaksanakan pada 19 November 2007, dengan menetapkan Ade Abdurrahman sebagai ketua umum. Prioritas utama pada periode ini adalah menguatkan soliditas internal L-KMPI dengan melanjutkan program kerja yang telah dibangun pada periode sebelumnya. Selain itu, L-KMPI pada periode ini selalu menjalin kerja sama dengan Pwk. PP Persis Yogyakarta dalam menjalankan program kerjanya. Terbukti, dalam periode ini L-KMPI dan Pwk. Persis telah banyak melakukan audiensi dengan beberapa pimpinan Persis yang berkunjung ke Yogyakarta, dianataranya: PP. Persis dari Bandung, PW. Persis & Persistri Jakarta, PP. Hima Persis dan Pesantren Persis Rancabogo Garut.
Hal lain yang patut diperhitungkan pada periode ini adalah bergabungnya mahasiswa Persatuan Islam (Persis) Solo dengan L-KMPI Yogyakarta. Hal ini tentu semakin menguatkan eksistensi L-KMPI dalam kancah keorganisasian, baik itu di Yogyakarta maupun di Solo.
Tahun 2008 merupakan pergantian kepemimpinan dari Ade Abdurrahman kepada Ganjar Hidayat. Periode ini belum dapat mengukir sejarah, karena hal ini lebih disebabkan periode kepemimpinan yang masih panjang. Entah apa yang akan diukir, kita tunggu action dari kekepemimpinan kali ini. Wallahu a’lam bishshawwab…

*Penulis adalah Sekjend L-KMPI Yogyakarta
Periode 2006-2007

Komentar (1) »

MUSYAWARAH BESAR

Lesehan-Komunitas Mahasiswa Persatuan Islam Yogyakarta

(L-KMPI) YK III

Kota Yogyakarta (memang) merupakan daerah yang istimewa. Dari segi keilmuan, beberapa universitas besar (setidaknya) di Indonesia berdiri megah di kota ini seperti UGM, UII, UIN SK , UMY, dan seterusnya. Walau bagaimanapun, hal tersebut menjadi sebuah barometer tersendiri bagi ‘kadar keilmuan’ kota ini. Dalam hal kebudayaan sekaligus pariwisata, ‘mantan’ Ibu Kota negara ini memiliki pantai Parangtritis, candi Prambanan, Kraton, dan seterusnya. Dalam konteks pergerakan dakwah, harus kita akui bahwa kota yang memiliki ring road ini adalah ‘kandangnya’ Muhammadiyyah, organisasi massa Islam yang relatif sama modernisnya dengan jam’iyyah Persatuan Islam yang kita perjuangkan ini. Wal hasil, secara umum, dalam berbagai hal, kota gudeg ini (memang) merupakan Daerah (yang) Istimewa Yogyakarta.

Terkait dengan hal tersebut di atas, timbul sebuah pertanyaan, apa istimewanya Yogyakarta bagi jam’iyyah Persatuan Islam? Sebuah pertanyaan yang cukup mengelitik untuk dijawab. Yogyakarta tetap (daerah yang) istimewa untuk Ust. K.H. Drs. Shidiq Aminullah, MBA. dan kawan-kawan (baca: Persatuan Islam) karena Persatuan Islam mempunyai para alumni yang melanjutkan studinya di sini dan (karena idealisme juga loyalitasnya terhadap jam’iyyah Persatuan Islam, dalam hal ini Pesantren Persis) membentuk sebuah komunitas alumni Pesantren Persis yang kemudian dinamai L-KMPI (Lesehan-Komunitas Mahasiswa Persatuan Islam) Yogyakarta . Nuansa “Jogja” terasa sekali dalam komunitas ini, terbukti dengan penamaan “lesehan”, yang merupakan salah satu identitas kekeratonan khususnya di Jogja. Ini menajdi keunikan tersendiri bagi L-KMPI. Selain itu, ada hal lain yang menarik dari L-KMPI, yaitu di dalam struktur ke-otonoman di Persatuan Islam, dalam hal ini HIMA dan HIMI PERSIS, L-KMPI tidak ‘diakui eksistensinya’ sampai saat ini. Untuk hal ini baiknya kita diskusikan lebih lanjut di kesempatan lain karena bukan di sini tempat yang tepat..

Dan pada tanggal 22-23 Nopember 2008, bertempat di kediaman seorang (boleh dikatakan) simpatisan Persatuan Islam di Yogyakarta, beliau bernama Ibu Enur (asalnya dari Garut, Wanaraja, masih mempunyai hubungan keluarga dengan Pimpinan Pesantren Persis 101 Sukarendah Garut), L-KMPI melaksanakan salah satu agenda besar tahuanannya, yaitu Musyawarah Besar III L-KMPI Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan sarana bagi L-KMPI untuk melakukan evalusi dan penyusunan substansi dan strategi gerakan organisasi ke depan.

Di tengah-tengah berbagai pergerakan organisasi mahasiswa yang ada, khususnya di kota Yogyakarta, L-KMPI harus konsisten dalam eksistensinya sebagai wadah bagi, khususnya, alumni Pesantren Persis yang melanjutkan studi di kota tersebut di atas, untuk, pada satu sisi, melakukan reinternalisasi ke-Persis-annya dan pada sisi lain memberikan sesuatu yang berarti bagi masyarakat secara umum dalam posisinya sebagai agen of change (baca: mahasiswa).

Pada Mubes kali ini, organisasi yang telah berdiri sejak sekitar akhir dasawarsa ’90-an ini mengambil tema “Revitalisasi Peran L-KMPI yang Kontributif”. Tema ini diambil tentunya atas dasar analisa kebutuhan dan masalah yang ada di internal maupun aspek-espek eksternal yang mempunyai keterkaitan-keterkaitan dengan L-KMPI. Dengan tema ini, L-KMPI bertujuan untuk menjadikan Mubes yang ketiga kalinya ini sebagai titik balik bagi gerakan L-KMPI yang lebih mengedepankan kontribusi kongkrit bagi masyarakat, khususnya masyrakat pelajar (baca: mahasiswa), dalam berbagai bidang, baik sosial, intelektual, maupun yang lainnya.

“Sudah saatnya L-KMPI tampil sebagai organisasi yang mapan dan produktif” Demikian kata sambutan dari ketua terpili Kang Ganjar Hidayat yang masih studi di UIN Sunan Kalijaga semester lima Fakultas Syariah Jurusan Mu’amalat.

Sebagai catatan, mahasiswa alumni Pesantren Persis yang melanjutkan studi di Yogyakarta berasal dari berbagai universitas. Komposisi ini tentu ,paling tidak, menjadi representasi L-KMPI itu sendiri. Pada Mubes yang melahirkan Kang Ganjar Hidayat (alumni PPI 76 Tarogong) sebagai Ketua L-KMPI yang baru (menggantikan Kang Ade Abdurrahman [alumni PPI 67 Benda]), para peserta Mubes ada yang berasal dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Muhamadiyah Yogyakarta, Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga, Universitas Gunadharma, STEI Hamfara, dan STEI Yogyakarta bahkan ada mahasiswa yang berasal dari Solo (Surakarta) yang ikut bermusyawarah, mereka sedang studi di Universitas Muhamadiayh Surakarta. Dalam hal asal pesantren, para aktifis L-KMPI berasal dari PPI 67 Benda, PPI 76 Tarogong, PPI 99 Rancabango, PPI Bangil, PPI Camplong (Madura), PPI 87 Pangatikan (dulu Wanaraja), PPI Indihiang, PPI Cianjur, dan banyak mahasiswa yang sama sekali bukan dari latar belakang Pesantren Persatuan Islam yang (atas dasar kedekatan pribadi mereka dengan para alumni Pesantren Persis dan juga ketertarikannya terhadap Persatuan Islam) ikut aktif di organisasi ini dan menghadiri Mubes yang diakhiri dengan shalat shubuh berjam`ah dengan di-­imam­-i oleh ketua terpilih ini.

Dalam sambutannya, Kang Yus Yusuf, S. Th.I, sebagai Ketua Perwakilan Persis Yogyakarta yang juga salah satu dari founding fathers organisasi yang dulunya bernama L-KAP (Lesehan-Komunitas Alumni Pesantren Persis), menyatakan bahwa program yang dijalankan oleh L-KMPI tidak perlu besar-besar. Cupuk dengan program yang kecil tetapi terlaksana dan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. “Apalah artinya sebuah program yang besar tanpa realisasi”. Tegas lulusan Fakultas Ushuluddin jurusan Tafsi Hadis UIN Sunan Kalijaga ini yang juga seorang pengusaha di bidang travel.

Dalam Mubes ini juga dihasilkan beberapa departemen yang akan menjadi ’motor-motor’ bergeraknya L-KMPI. Departemen-departemen tersebut antara lain Departemen Nalar dan Intelektual, Departemen Jaringan dan Komunikasi Umat, dan Departemen Penelitian dan Pengembangan.

Ke depan, dalam waktu satu atau dua bulan lagi, L-KMPI akan melakukan satu agenda pertama di kepemimpinan barunya di bawah ’nakhoda’ Kang Ganjar Hidayat. Agenda itu adalah road show ke sebagian besar Pesantren Persis di Jawa Barat dengan mengadakan acara try out bagi santri-santri tiga Mualimin untuk menghadapi Ujian Nasional. Kegiatan ini menjadi semacam agenda besar lainnya yang telah konsisten dilaksanakan oleh L-KMPI. Agenda ini juga mendapat apresiasi yang positif dari elit Persatuan Islam maupun para santri dengan keikut sertaannya pada acara try out tersebut. Kita nantikan saja aksi dari para mahasiswa yang ’sedikit membangkang’ pada PP. HIMA dan PP. HIMI ini. Billaahi tawfiq wal hidaayah. [Imam Sofyan Abbas]

lkmpi 2009

lkmpi 2009

Komentar (3) »

Struktur Organisasi LKMPI 2008-2009

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Comic Sans MS”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:36.0pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Comic Sans MS”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoListParagraphCxSpFirst, li.MsoListParagraphCxSpFirst, div.MsoListParagraphCxSpFirst {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-type:export-only; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:36.0pt; margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Comic Sans MS”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoListParagraphCxSpMiddle, li.MsoListParagraphCxSpMiddle, div.MsoListParagraphCxSpMiddle {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-type:export-only; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:36.0pt; margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Comic Sans MS”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoListParagraphCxSpLast, li.MsoListParagraphCxSpLast, div.MsoListParagraphCxSpLast {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-type:export-only; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:36.0pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Comic Sans MS”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-family:”Comic Sans MS”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:Calibri; mso-bidi-theme-font:minor-latin;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:1693602267; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-211020446 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Comic Sans MS”;}

STUKTUR ORGANISASI

Ketua : Ganjar Hidayat

Sekretaris : Agus Barkah Hamdani

Bendahara : Dian Anjar Wulan

Departemen :

1. Nalar dan Intelektual (Aufklarung)

Kepla Departemen : Imam Sofyan Bin Abbas Bin Ahmad

Staf : Gianti

Fitrah Meutia

Paris Cavallera

Rijaul Insan

Nuni S

2. Jaringan dan Komunikasi Umat

Kepala Departemen : Rini Lestari

Staf : Rijal Ramdani

Ahdan Ramdani

Fitri Yuliani

Endah Ihsaniyah

Alkautsar

3. Penelitian dan Pengembangan

Kepala Departemen : Ruhul Ulya

Staf : Anggun

Risa Meitha Noura

Fahmi Nurhanifah

Dedeh Hamidah

Supardi

DATASEMEN 99 :

Eka JRF, Eris Munandar, Tahta Amrillah, Ade Abdurrahman, Ali Fikri, Husnul Aqib, Ade Anhar, Fitriyani, Nurul Izzati Shifa,Mia.

Komentar (7) »

SEJARAH PERSATUAN ISLAM

Berkenalan dengan Jam’iyyah Persatuan Islam

Tampilnya jam’iyyah Persatuan islam (Persis) dalam pentas sejarah di Indonesia pada awal abad ke-20 telah memberikan corak dan warna baru dalam gerakan pembaruan Islam. Persis lahir sebagai jawaban atas tantangan dari kondisi umat Islam yang tenggelam dalam kejumudan (kemandegan berfikir), terperosok ke dalam kehidupan mistisisme yang berlebihan, tumbuh suburnya khurafat, bid’ah, takhayul, syirik, musyrik, rusaknya moral, dan lebih dari itu, umat Islam terbelenggu oleh penjajahan kolonial Belanda yang berusaha memadamkan cahaya Islam. Situasi demikian kemudian mengilhami munculnya gerakan “reformasi” Islam, yang pada gilirannya, melalui kontak-kontak intelektual, mempengaruhi masyarakat Islam Indinesia untuk melakukan pembaharuanIslam. Lahirnya Persis Diawali dengan terbentuknya suatu kelompok tadarusan (penalaahan agama Islam di kota Bandung yang dipimpin oleh H. Zamzam dan H. Muhammad Yunus, dan kesadaran akan kehidupan berjamaah, berimamah, berimarah dalam menyebarkan syiar Islam, menumbuhkan semangat kelompok tadarus ini untuk mendirikan sebuah organisasi baru dengan cirri dan karateristik yang khas.
Pada tanggal 12 September 1923, bertepatan dengan tanggal 1 Shafar 1342 H, kelompok tadarus ini secara resmi mendirikan organisasi yang diberi nama “Persatuan Islam” (Persis). Nama persis ini diberikan dengan maksud untuk mengarahkan ruhul ijtihad dan jihad, berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencapai harapan dan cita=cita yang sesuai dengan kehendak dan cita-cita organisasi, yaitu persatuan pemikiran Islam, persatuan rasa Islam, persatuan suara Islam, dan persatuan usaha Islam. Falsafah ini didasarkan kepada firman Allah Swt dalam Al Quran Surat 103 : “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (undang-undang (aturan) Allah seluruhnya dan janganlah kamu bercerai berai”. Serta sebuah hadits Nabi Saw, yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, “Kekuatan Allah itu bersama al-jama’ah”.
Tujuan dan Aktifitas Persis

Pada dasarnya, perhatian Persis ditujukan terutama pada faham Al-Quran dan Sunnah. Hal ini dilakukan berbagai macam aktifitas diantaranya dengan mengadakan pertemuan-pertemuan umum, tabligh, khutbah, kelompok studi, tadarus, mendirikan sekolah-sekolah (pesantren), menerbitkan majalah-majalah dan kitab-kitab, serta berbagai aktifitas keagamaan lainnya. Tujuan utamanya adalah terlaksananya syariat Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan.
Untuk mencapai tujuan jam’iyyah, Persis melaksanakan berbagai kegiatan antara lain pendidikan yang dimulai dengan mendirikan Pesantren Persis pada tanggal 4 Maret 1936. dari pesantren Persis ini kemudian berkembang berbagai lembaga pendidikan mulai dari Raudlatul Athfal (Taman kanak-kanak) hingga perguruan tinggi. Kemudian menerbitkan berbagai buku, kitab-kitab, dan majalah antara lain majalah Pembela Islam (1929), majalah Al-Fatwa, (1931), majalah Al-Lissan (1935), majalah At-taqwa (1937), majalah berkala Al-Hikam (1939), Majalah Aliran Islam (1948), majalah Risalah (1962), majalah berbahasa Sunda (Iber), serta berbagai majalah yang diterbitkan di cabang-cabang Persis. Selain pendidikan dan penerbitan, kegiatan rutin adalah menyelenggarakan pengajian dan diskusi yang banyak digelar di daerah-daerah, baik atas inisiatif Pimpinan Pusat Persis maupun permintaan dari cabang-cabang Persis, undangan-undangan dari organisasi Islam lainnya, serta masyarakat luas.
Kepemimpinan
Kepemimpinan Persis periode pertama (1923 1942) berada di bawah pimpinan H. Zamzam, H. Muhammad Yunus, Ahmad Hassan, dan Muhammad Natsir yang menjalankan roda organisasi pada masa penjajahan kolonial Belanda, dan menghadapi tantangan yang berat dalam menyebarkan ide-ide dan pemikirannya.
Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), ketika semua organisasi Islam dibekukan, para pimpinan dan anggota Persis bergerak sendiri-sendiri menentang usaha Niponisasi dan pemusyrikan ala Jepang. Hingga menjelang proklamasi kemerdekaan Pasca kemerdekaan. Persis mulai melakukan reorganisasi untuk menyusun kembali system organisasi yang telah dibekukan selama pendudukan Jepang, Melalui reorganisasi tahun 1941, kepemimpinan Persis dipegang oleh para ulama generasi kedua diantaranya KH. Muhammad Isa Anshari sebagai ketua umum Persis (1948-1960), K.H.E. Abdurahman, Fakhruddin Al-Khahiri, K.H.O. Qomaruddin Saleh, dll. Pada masa ini Persis dihadapkan pada pergolakan politik yang belum stabil; pemerintah Republik Indonesia sepertinya mulai tergiring ke arah demokrasi terpimpin yang dicanangkan oleh Presiden Soekarno dan mengarah pada pembentukan negara dan masyarakat dengan ideology Nasionalis, Agama, Komunis (Nasakom).
Setelah berakhirnya periode kepemimpinan K.H. Muhammad Isa Anshary, kepemimpinan Persis dipegang oleh K.H.E. Abdurahman (1962-1982) yang dihadapkan pada berbagai persoalan internal dalam organisasi maupun persoalan eksternal dengan munculnya berbagai aliran keagamaan yang menyesatkan seperti aliran pembaharu Isa Bugis, Islam Jama’ah, Darul Hadits, Inkarus Sunnah, Syi’ah, Ahmadiyyah dan faham sesat lainnya.
Kepemimpinan K.H.E. Abdurahman dilanjutkan oleh K.H.A. Latif Muchtar, MA. (1983-1997) dan K.H. Shiddiq Amien (1997-2005) yang merupakan proses regenerasi dari tokoh-tokoh Persis kepada eksponen organisasi otonom kepemudaannya. (Pemuda Persis). Pada masa ini terdapat perbedaan yang ckup mendasar: jika pada awal berdirinya Persis muncul dengan isu-isu kontrobersial yang bersifat gebrakan shock therapy paa masa ini Persis cenderung ke arah low profile yang bersifrat persuasive edukatif dalam menyebarkan faham-faham al-Quran dan Sunnah.
Persis Masa Kini
Pada masa kini Persis berjuang menyesuaikan diri dengan kebutuhan umat pada masanya yang lebih realistis dan kritis. Gerak perjuangan Persis tidak terbatas pada persoalan persoalan ibadah dalam arti sempit, tetapi meluas kepada persoalan-persoalan strategis yang dibutuhkan oleh umat Islam terutama pada urusan muamalah dan peningkatan pengkajian pemikiran keislaman.

Komentar (7) »

Ta’aruf

lkmpiPada tanggal 19 November 2000 atau bertepatan dengan tanggal 22 Sya’ban 1421, di Jogjakarta berdirilah sebuah Organisasi Paguyuban atau Komunitas Mahasiswa Persatuan islam. Dengan Prakarsa beberapa orang mahasiswa yang mempunyai hubungan erat dengan almamater Persisnya, maka Organisasi ini di bentuk dan  di beri nama LKAP atau kepanjangan dari “Lesehan Komunitas Alumni Persis”.

Sekitar tahun 2003 LKAP diganti namanya dengan LKMPI atau Kepajangan dari “Lesehan Komunitas Mahasiswa Persatuan Islam”. Perubahan ini di dasari oleh adanya keinginan untuk memberikan pintu masuk buat mahasiswa yang dahulunya tidak pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Persis, tetapi mempunyai hubungan batin dengan Persis yang akhirnya bisa di sebut sebagai simpatisan.

Pada Priode pertama, ketika masih menggunakan LKAP, komunitas ini di komandoi oleh Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang bernama Asep Hendra. selama Priode ini tonggak kepemimpinan Berlangsung selama 3 tahun atau sampai organisasi ini berubah nama menjadi LKMPI.

Pada kepengurusan yang kedua,atau pertama kalinya setelah berubah namannya menjadi LKMPI, komunitas ini di ketuai oleh Ade Ripa’i, seorang ahli Komunikasi dari jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Lagi-lagi dikarenakan sistem kaderisasinya kurang berjalan lancar, kepengurusan kali ini berjalan cukup lama, yaitu dari tahun 2003 sampai 2006.

Setelah priode pertama LKMPI, barulah pada Musyawarah Besar tahun 2006 terpilih Kader Yang bisa di sebut Masih muda dan kemudian menjalankan tonggak kepengurusan dengan semangat barua, seiring dengan personil-personil yang baru. Pada MUBES tahun 2006 terpilih seorang santri Alumni PPI 99 Rancabango Garut dan kuliah di Fak. Syari’ah UIN Yogyakarta sebagai ketua yang Bernama Eka Jati Rahayu. pada masa ini pula pola kaderisasinya berjalan cukup lncar sehingga regenerasi di tubuh kepengurusan berlangsung selama satu tahun. Meskipun masa jabatannya tidak selama kepengurusan sebelumnya, tetapi banyak terosan-terobosan baru yang di lahirkan dan menjadi pijakan untuk kepengurusan selanjutnya.

setelah itu kepengurusan selanjutnya di ketuai oleh santri alumni Persis Benda Tasikmalaya yang Bernama Ade Abdurrahman. selama satu priode kepengurusan yang berlasung dari bulan Desember 2007- November 2008 ini, program kerjanya masih hampir sama dengan priode sebelumnya. atau hanya meneruskan Estafeta perjuangan yang telah di lalui oleh pengurus sebelumnya.

Kemarin, pada tanggal 22-23 November 2008 telah dilaksanakan kembali Musyawarah Besar LKMPI yang ke-3. Menurut ketua PW Persis Jogja, Mubes kali ini di Klaim sebagai MUBES terbesar sepanjang sejarah LKMPI karena selain di adakan di Vila milik ketua PW Persistri Jogja tetapi peserta yang datang tercatat sebagai yang terbanyak selama pelaksanaan mubes LKMPI.

Seperti tradisi LKMPI sebelum-sebelumnya, pemilihan ketua berakhir ketika bertepan dengan adzan Subuh! KUmandang adzanpun menandakan bahwa ketua LKMPI yang baru telah terpilih dan bersiap siap memegang Amanah yang akan di pikul selama kurang lebih satu tahun. Seorang santri alumni Pondok Pesantren PERSIS Rancabogo (PPI 76) Garut yang bernama Ganjar Hidayat, tercatat sebahgai ketua LKMPI yang ke 4.

Banyak harapan mahasiswa persis jogja yang bertumpu kepadanya, dan Apakah dengan sentuhan tangannya LKMPI akan menjadi Organisasi Paguyuban/ Komunitas yang Produktif dan Mapan? atau sebaliknya?

Hanya Kesunguh-sungguhan yang akan menjawabnya!!!

Komentar (4) »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Komentar (1) »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.