Akhir bulan Februari lalu Lesehan Komunitas Mahasiswa Persatuan Islam (L-KMPI) Yogyakarta melaksanakan Road Show ke Pesantren-Pesantren Persatuan Islam (Persis) yang ada di wilayah Priangan Timur sebagai realisasi program kerja dari Departemen Jaringan dan Komunikasi Ummat, yakni menjalin hubungan kerjasama dan silaturahmi antara L-KMPI, paguyuban alumni pesantren Persis yang ada di D.I. Yogyakarta, dengan institusi (Pesantren Persis) sebagai wujud kepedulian L-KMPI terhadap generasi muda (santri) Persis. Acara dengan mengusung tema “Dari Alumni Untuk Generasi” diketuai oleh Tahta Amrillah (alumnus Pesantren Persis Sepeken Jawa Timur) ini berlangsung dengan lancar dan sukses. Kelancaran dan kesuksesan acara tersebut tercermin oleh beberapa factor, baik dari internal kepanitiaan sendiri maupun pihak ekternal yakni pesantren Persis sebagai fasilitator dan insititusi pendidikan sebagai pihak pendukung acara.
Pertama, yakni kesolidan internal panitia pelaksana. Ini tercermin dari tidak mengandalkan hanya pada Departemen Jaringan dan Komunikasi Ummat saja, tetapi soliditas terlihat mulai dari terbentuknya panitia sampai hari dimana acara berlangsung, yaitu tanggal 29 Februari – 9 Maret. Acara dimulai pertama kali di kabupaten Bandung, tepatnya Pesantren Persis Banjaran, setelah itu dilanjutkan dengan bersilaturahmi ke Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (PP. HIMA Persis) yang terletak di Pesantren Persis Pajagalan. Acara pun berakhir di Kota Banjar, tepatnya di Pesantren Persis Banjar pada tanggal 9 Maret 2008.
Kedua, sambutan hangat dan antusiasme dari pihak Pesantren Persis yang dikunjungi. Acara Road Show ini diisi dengan sosialisasi perguruan tinggi yang ada di daerah Yogyakarta dan Try Out yang diikuti oleh santri Mu’allimien dan Tsanawiyyah, sehingga tidak sedikit pihak pesantren mengeluarkan tenaga dan pikiran untuk memobilisasi santri supaya mengikuti acara ini. Nampaknya tidak hanya ustadz-ustadzah yang begitu ramah dan hangat menyambut L-KMPI, adik-adik santri pun mengikuti acara ini dengan begitu antusias dan khidmat, terutama santri Mu’alimien yang berkeinginan untuk melajutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (kuliah). Terbukti dengan penjelasan mengenai perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta dan pengenalan kawasan Yogyakarta beserta aktivitas keseharian mahasiswanya, banyak santri yang bertanya mengenai jurusan ataupun program studi yang ada di Yogyakarta, juga ada santri yang sampai curhat mengenai keinginannya melanjutkan kuliah dan bertanya mengenai cara masuk ke jurusan favorit yang diinginkan.
Memang sampai saat ini belum ada organisasi alumni Pesantren Persis yang mengadakan acara semacam ini. Sehingga begitu besarnya antusiasme Pesantren Persis dalam menyambut acara ini. Inilah sebagai perwujudan kepedulian alumni terhadap adik-adik kelasnya yang masih ada di Pesantren Persis. Karena dengan cara inilah sebagai salah satu upaya sambung rasa alumni terhadap santri Pesantren Persis, sekaligus berbagi pengalaman di hari-hari terakhir meninggalkan Pesantren.
Ketiga, dukungan dari institusi pendidikan di Yogyakarta. Acara Road Show ini didukung antara lain oleh: STMIK AMIKOM Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dan Magistra Utama. Selain itu, dukungan pun datang dari lembaga bimbingan belajar yang berpusat di Bandung yaitu Ganesha Operation (GO). GO membantu kelancaran acara ini dengan men-suplai soal Try Out berstandar Ujian Nasional (UN). Sehingga dengan diadakannya try out secara tidak langsung memberikan gambaran soal UN bagi santri sekaligus mengukur kemempuan mereka dalam mengerjakan soal ujian.
Harapannya, dengan diadakan try out kemampuan santri dalam mengerjakan soal ujian dapat terukur, sehingga pihak pesantren dapat mengevaluasi hasil belajar santrinya dan mengambil langkah ansipatif dalam menekan hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya meminimialisir tingkat ketidaklulusan dengan mengadakan pemadatan pembelajaran khususnya materi yang hendak diujikan di UN.
Sulit dibayangkan ketika acara Road Show II ini harus berakhir, namun harapannya ke depan semoga acara yang seperti ini dapat terus terjaga sehingga dapat terjaga pula jalinan silaturahmi antara alumni dengan Pesantren Persis yang telah ikut membesarkannya. Semoga tidak hanya L-KMPI Yogyakarta saja yang dapat melaksanakan acara ini, namun sebisa mungkin seluruh komunitas ataupun paguyuban alumni Pesantren Persis dimanapun ikut memberikan perhatian terhadap generasi mendatang penerus dakwah Qur’an-Sunnah. Allaahu Ya’khudzu Ilaa Maa Fiehi Khairan Lil Islaami Wal Muslimin.
Eris Munandar
Lesehan Komunitas Mahasiswa Persatuan Islam
(L-KMPI) Yogyakarta Periode 2008-2009rsis sulit untuk masuk ke wilayah Jogja.
Namun sejarah berkata lain, 27 Mei 2006 adalah sejarah kelam bagi masyarakat Yogyakarta dan sebagian masyarakat Jawa Tengah, pasalnya gempa berkekuatan 5,9 richter telah meluluhlantahkan Yogyakarta. Bantuan pun berdatangan memasuki yogyakarta yang kala itu memang sangat membutuhkan uluran tangan dari berbagai pihak. Tidak terkecuali dengan Persis yang berkantor pusat di Bandung, pun ikut berpartisipasi dalam membantu masyarakat dengan mengirimkian team relawan.
Masuknya team relawan Persis ke Jogja telah memberikan angin segar bagi Persis untuk melebarkan sayapnya ke Jogja, pasalnya setelah bertahun-tahun baru kali ini Persis mendapatkan perhatian dari sebagian masyarakat Jogja khususnya masyarakat yang tinggal di Pleret Bantul. Pun tidaka demikian, Persis sulit memasuki Jogja karena dinilai Persis mewakili Islam Fundamentalis, yang sangat keras dalam menyampaikan dakwahnya.
April 2007 Persis meresmikan Perwakilannya di Yogyakarta. Adanya Perwakilan PP Persis di Yogyakarta tentu tidak bisa terlepas dari peran mahasiswa Persis yang berdomisili di Yogyakarta, yang tergabung dalam Lesehan Komunitas Mahasiswa Persatuan Islam (L-KMPI) Yogyakarta. Sebagai sebuah paguyuban alumni pesantren Persis, L-KMPI.
Peluang Persis di Jogja
Jauh sebelum PP. Persis meresmikan Perwakilannya di Jogja, terlebih dahulu telah banyak alumnus Pesantren Persis yang melanjutkan pendidikannya dan memutusakan untuk berdomisili di Jogja. Untuk mengikatkan silaturahmi dan mempererat kekeluargaan alumnus Pesantren Persis yang berada di Jogja dibuatlah sebuah wadah yang bernama Lesehan Komunitas Mahasiswa Persatua Islam (L-KMPI) pada tanggal 22 Sya’ban 1421 H/ 19 November 2000.
Keberadaan L-KMPI sangat membantu PP Persis dalam mewujudkan terbentuknya Perwakilan Persis di Jogja. Pasalnya, L-KMPI menjadi mediator antara PP Persis dengan masyarakat Jogja yang bersimpati terhadap Persis. Keputusan untuk membuka Perwakilan tentu harus diikuti dengan kesiapan yag matang, paling tidak kesiapan mental dalam menghadapi masyarakat Yogyakarta yang heterogen. Sebenarnya ada banyak peluang bagi Persis untuk bisa eksis di Jogja: pertama: sebagian masyarakat Jogja adalah pendatang dan terpelajar. Tiap tahunnya Jogja banyak menyedot pendatang dari berbagai pelosok nusantara untuk belajar di berbagai perguruan tinggi. Dengan jumlah yang tidak sedikit ini, tidak sedikit pula yang memutuskan untuk menetap di Jogja. Keberadaan mereka patut diperhitungkan, tipikal pelajar yang rasional akan sangat dengan mudah menerima sesuatu jika ada landasan yang kuat. Hal ini sangat sejalan dengan Persis yang dapat mengungkap berbagai permasalahan dengan berpegang kepada al-Qur’an dan Sunnah.
Kedua: tidak sedikit alumnus Persis yang berdomisili di Jogja. Mereka patut diperhitungan, dengan track recordnya yang mudah bergaul dengan masyarakat menyebabkan mereka sangat dipercaya oleh masyarakat. Dengan berbagai profesi yang digeluti mereka berdakwah dengan caranya masing-masing. Keberadaan Persis di Jogja seolah memperkuat eksistensi mereka selama ini.
Ketiga, L-KMPI yang selama ini telah menjadi ujung tombak Persis telah ikut membatu dalam membesarkan nama Persis di Jogja. Pada dasarnya Persis di Jogja dengan L-KMPI bagai dua sisi mata uang koin, walaupun berbeda tetapi keduanya adalah satu yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh L-KMPI selalu menyertakan nama Perwakilan PP Persis Yogyakarta, hal ini guna mem-publish Persis di kalangan civitas akademika yang berada di Yogyakarta. Walaupun L-KMPI tidak ada hubungan struktural dengan Persis, mereka tetap berkeyakinan suatu saat Persis mampu eksis di Jogja. Satu alasan kenapa L-KMPI selalu mendukung setiap gerak yang Pwk. Persis, karena L-KMPI menyadari betul hubungan emosional yang telah mengikatkannya dengan Persis sehingga Persis dapat dikenal dari kampus ke kampus.
Tantangan Persis di Jogja
Banyak tantangan yang akan dihadapi oleh Persis dalam menjalankan setiap misinya untuk mengembalikan umat kepada al-Qura’an dan Sunnah. Umumnya masyarakat menolak karena pengetahuan yang terbatas soal agama. Namun berbeda dengan Ahmad Hassan (guru utama Persis), beliau mengungkapkan bahwa tidak ada kehidupan yang lebih baik daripada hidup dalam batasan-batasan agama (Dadan Wildan: 1997). Ungkapan ini tentu harus menjadi motor yang menjadikan agama sebagai landasan berpijak umat Islam pada umumnya.
Tidak jauh berbeda dengan apa yang dihadapi oleh Persis di berbagai daerah, umumnya masyarakat Indonesia masih memegang teguh tradisi dan warisan nenek moyang. Pun dengan Jogja tradisi kejawen yang sangat kentasl seolah menempatkan agama pada urutan yang kesekian setelah tradisi. Banyak tradisi yang masih membudaya dalam masyarakat yang sulit untuk ditinggalkan, dan tidak sedikit tradisi itu belum mencerminkan Islam yang dianut oleh masyarakat pemegang tradisi tersebut.
Persis dilahirkan mempunyai tugas untuk meluruskan hal itu semua, setidaknya meminimalisir terjadinya TBC (takhayul, bid’ah dan churafat). Namun untuk mencapai itu semua ada strategi khusus yang dijalankan, seperti al-Qur’an yang menyatakan bahwa dalam menyeru dalam kebaikan hendaknya diiringi oleh hikmah dan mao’idzah hasanah.
Wallahu a’lam bish shawwab…
*Penulis adalah alumnus Pesantren Persis Benda dan pernah mengemban amanah sebagai Sekjen L-KMPI periode 2006-2007